Minggu, 20 Juni 2010

Saya Sering Membuat Ibu Menangis....

Ini adalah sebuah kisah,, sebuah cerita ,,, sebuah ungkapan dan curahan hati akan besarnya kasih sayang dari seorang ibu...
Kasih sayang yang tulus tanpa mengharap balasan apa-apa....

Ibu memang muara kasih, yang penuh cinta dan kasih sayang,, tapi tidak jarang kita sebagai seorang anak,, melupakan hal itu,,, kita bukan membuatnya bangga tetapi malah membuatnya menangis..... begitu juga yang pernah dan sangat sering saya lakukan....

Ini adalah kisah ku,,,, kisah penyesalan,, karna AKU SERING MEMBUAT IBU MENANGIS.....

aku adalah seorang anak ke terakhir dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan.... Aku rasa aku adalah anak yang paling beruntung karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayangi ku.... terutama ibu....

Pada suatu waktu,,, saat itu ketika aku berumur 9 tahun, aku masih duduk di bangku kelas 3 SD... Hari itu (saya lupa hari apa tepatnya) aku pulang cepat dari sekolah karena guru rapat, dan aku pun langsung berencana untuk main dengan teman2 sepulang dari sekolah.. Ketika sampai dirumah,,, terlihat ibu berdiri di teras,, menunggu ku yang sudah terlihat dari kejauhan. Dia pun menyambutku , mengajak ku masuk dan mengganti pakaian ku,,, lalu menyuruh ku makan,, tapi aku langsung menolak karna aku ingin main dengan teman2 yang sudah menunggu ku. Ibu melarang, dan baru mengizinkan pergi setelah aku makan.. aku marah, lalu langsung lari keluar rumah,,, ibu mengejar ku sambil berteriak memanggil nama ku... aku terus berlari dan tidak memperdulikannya. ketika menyebrang jalan... tiba2 aku mendengar suara deritan rem mobil,, dan ada sebuah benda keras yang menghantam tubuh ku... lalu aku tidak tahu apa2 lagi....

ketika aku terbangun,, yang ku rasakan sekujur tubuh ku terasa sakit dan ngilu,,, dan ku lihat disamping ku,,, ibu sedang menangis,, dan tiba2 ia tersenyum saat melihat aku sadar..... lalu dia mencium ku dan menangis lagi.. lalu aku bertanya... "kenapa ibu menangis,,, apakah ibu marah kepada saya?" lalu ibu menjawab.. "tidak sayang,, ibu tidak marah marah, tapi ibu hanya sedih karena ibu tidak bisa menjaga kamu".... mendengar itupun aku diam...

Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk menuruti kata2 ibu,,, karna aku tidak mau membuat ibu menangis lagi..
Tapi suatu waktu, saat itu aku duduk di kelas 2 SMP....
karena pengaruh teman2, aku melakukan sebuah kesalahan yang amat besar. aku dan 3 orang temanku mengeroyok seorang siswa baru sampai dia babak belur dan masuk rumah sakit. Karena kejadian itu kepala sekolah memanggil ibu dan mengatakan kalau aku dikeluarkan dari sekolah,, tentu saja ibu berusaha dengan sekuat tenaga agar kepala sekolah bisa memberi keringanan. tapi kepala sekolah mengatakan itu adalah tuntutan dari orang tua siswa yang kami keroyok. Tapi ibu tidak menyerah, ibu memberanikan diri dan memprtaruhkan harga dirinya untuk memohon kepada orang tua siswa tersebut untuk mencabut tuntutannya. melihat kesungguhan ibu,, akhirnya tuntutan itu pun dicabut dan aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Setelah kejadian itu,, ibu mengacuhkan aku, dia tidak pernah mau menyapa dan tidak lagi memperdulikan ku. Ke esokan harinya, ketika ayah pulang dari luar kota, ayah langsung murka setelah tau apa yang telah terjadi,, ayah menempeleng dan menghajarku sampai aku tidak bisa berbicara dan berdiri lagi..... ketika ayah ingin memberikan pukulan selanjutnya,,, tiba2 ibu berlari ke arah ku dan memelukku sambil menangis.... dia memohon kapada ayah untuk berhenti menghukumku.. lalu ayah pun pergi.
setelah ayah pergi, ibu menggendongku ke kamar,, diletakkannya aku di atas kasur dan obatinya lukaku,, aku hanya bisa meringis sambil menangis,, tapi tak bisa bersuara,,, terlihat olehku ibu juga menangis, deras sekali tangisannya dan dia juga tidak bersuara.... dia mengusap semua luka2 ku,,,, lalu dia menciumku.... terbata2 lalu aku berkata..."ibu,,, maafkan aku,,, ibu jangan menangis, apakah ibu marah pada ku?' lalu ibu menjawab... "tidak nak,, ibu menangis bukan karena ibu marah,, tapi karena ibu tidak bisa melindungimu"...
mendengar ibu berkata seperti itu,, aku menangis lebih kencang lalu memeluk ibu,,, dan dalam hati aku berjanji tak kan membuat ibu menangis lagi...

Waktu pun berganti,,
tak terasa aku sudah lulus SMA,,, dan dalam kurun waktu itu,,, aku sangat senang karena aku tak pernah membuat ibu menangis...
Tapi ketika tiba waktu aku harus pergi ke keluar kota untuk mencoba mengadu nasib... .
Aku berpamitan sebelum pergi,,, aku memeluk ayah,, kakak-kakak, dan terakhir ibu...
Kulihat ibu menangis,,, tapi terlihat sekali dia mencoba menahan tangisannya sehingga yang terdengar hanya desahan2 kecil yang semakin terdengar pilu...
Lalu aku memeluk ibu,, aku mencium nya dan mengusap air matanya... lalu aku bertanya.. "ibu, kenapa ibu menangis? apakah ibu tidak ingin aku pergi?"..
lalu ibu menjawab..."tidak nak,,, ibu menangis bukan karena ibu tidak ingin kau pergi,, tapi ibu menangis karna ibu tak tau kapan kau akan kembali"... ia menjawab sambil menangis,,, dan bagi ku itu adalah kesedihan ku.....
aku lalu menjawab.."ibu jangan khawatir,, aku akan segera kembali untuk ibu"... lalu aku pun melangkahkan kaki, naik ke bus sambil melambaikan tangan pada mereka,mereka juga melambaikan tangan, kecuali ibu yang hanya mematung dengan mata yang berurai air mata.. tak terasa air mataku jatuh,,, aku membayangkan ibu,,, pelukannya,, ciumannya,, dan kasih sayang nya,,,,yang pasti akan sangat aku rindukan......
IBU AKU AKAN KEMBALI untukmu.........

Tak terasa, setelah setahun bekerja diluar kota, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, menemui keluarga,, dan pastinya Ibu yang sudah sangat aku rindukan....
ketika aku tiba,, terlihat mereka semua sudah menungguku di terminal... terlihat ayah, kakak, dan ibu disana.... aku melihat ibu.. dia semakin tua... dan aku tiba2 membayangkan tangisannya...
dalam hati aku bertanya apakah ibu akan menangis???

aku turun dari bus dan langsung menemui mereka. ku peluk ayah, ku peluk kk, dan akhirnya kupeluk orang yang sangat ku rindukan,,, IBU...
Ibu tidak menangis,, tidak sama sekali.. malah dia tersenyum melihatku...
Melihat itu tiba2 air mataku jatuh dan aku menangis...
ibu lalu mengusap air mata ku... dan bertanya..."nak,, mengapa kau menangis?? apa kau tidak bahagia bertemu ibu?".....
lalu aku menjawab... "aku menangis bukan karena tidak bahagia menemui ibu.... tapi aku menangis karena teringat betapa sering AKU MEMBUAT IBU MENANGIS...."
lalu ibu pun menangis dan kami berpelukan....

IBU... AKU MENCINTAIMU..... dan aku berjanji aku tak kan membuatmu menangis lagi,,,, karna tangisanmu adalah kesedihanku,,, dan senyumanmu adalah kebahagiaan ku.....

Rabu, 16 Juni 2010

Kasih sayang Ayah

Ayah mengutamakan pria meremehkan wanita, kesan ini sudah berurat akar dalam sanubariku sejak masa kanak-kanak.

Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu mendapat pakaian bekas abangku.
Bagaimanapun seorang gadis yang mengenakan pakaian abang yang longgar dan usang,
rasanya sangat janggal. Saat pulang sekolah, aku selalu berlengah-lengah jalan di belakang,takut kepergok teman-temanku, yang akan mengejek dan mentertawakan sebagai bocah gadungan.

Abangku seorang laki-laki cacat, lebih tua 5 tahun dariku. Meski aku anak perempuan, tapi aku sangat tekun belajar, setiap ujian aku selalu dapat ranking pertama.

Seharusnya akulah yang paling pantas di sayang ayah. Karena hal ini,
aku selalu tidak terima akan sikap ayah terhadapku, aku menganggap ayah pilih kasih.
Suatu hari saat tahun baru, ayah lagi-lagi membelikan pakaian baru untuk abang, sedangkan aku tidak satu pun.
Akhirnya aku tak tahan lagi, melabrak ayah sambil berteriak : “Kau pilih kasih! Aku benar-benar tidak mengerti, ia hanya seorang laki-laki cacat, apa bagusnya meski berpakaian bagus sekalipun!
”mendengar itu, bukan main marahnya ayah dan menamparku.
Aku tidak menyerah dan mengangkat kepalaku, bak seekor singa yang lapar aku meraung sambil menatap ayah
“Aku tahu kau memandang rendah padaku, ayo pukul lagi! Kalau perlu bunuh saja sekalian!”muka ayah merah padam saking marahnya, kemudian hendak menampar lagi, tapi dicegah oleh ibu.

Sejak itu, aku makin benci sama keluarga ini, aku belajar dengan tekun,
dan berencana hendak meninggalkan keluarga ini setelah lulus ke perguruan tinggi
Abangku hanya sekolah beberapa tahun, setelah itu berhenti dan tinggal di rumah, prestasi belajarnya selama ini sangat memuaskan. Tapi tidak merasa menyesal untuknya, malah aku merasa nyaman “Siapa suruh kau cacat ?”

Setelah lulus SMU aku berhasil diterima di sebuah lembaga ilmu kedokteran.
2 tahun kemudian, aku menjalin asmara dengan seorang pria, kami berunding untuk membeli rumah di daerah kota.
Keluarga laki-laki tinggal di desa, keadaan ekonomi juga biasa-biasa saja,
kami telah menyimpan sebagian tabungan, tapi untuk kredit rumah masih kurang.
Aku harap keluarga bisa memberi sebagian tambahan, dan ketika aku menceritakan hal ini sama ayah, tak disangka ia langsung menolaknya “Uang tabungan keluarga dibutuhkan untuk biaya abangmu memperistri nanti!
Masalah pembelian rumah, kau pikirkanlah sendiri! Kalau uangmu tidak cukup,
tidak perlu beli yang terlalu besar!”ayah yang tidak mengerti perasaan membuat aku sungguh sangat kecewa.

Belakangan akhirnya pernikahan abang telah dibicarakan dan disetujui, yaitu seorang gadis desa tetangga yang polos.
Ayah mengeluarkan puluhan ribu dollar dan dengan cukup meriah menyelenggarakan pernikahan mereka.

Setelah menikah, aku juga sudah jarang pulang ke rumah. Beberapa hari yang lalu ayah ulang tahun yang ke-60 tahun, ibu meneleponku, tapi aku menolak dengan alasan lagi sibuk dan mungkin tidak bisa pulang.
Dengan kecewa ibu menutup telepon. Suamiku mengatakan, tidak baik kalau ulang tahun ayah sampai tidak menyempatkan diri untuk pulang. Suamiku memberi berbagai nasihat, dan akhirya aku pulang juga.
Ayah tampak sangat gembira, sibuk kesana kemari sambil bersenandung. Aku merogoh $ 200 untuk ayah.
Tapi Ayah menolaknya dengan alasan “Kalian juga bukan keluarga berada, simpanlah untuk kebutuhan sendiri nanti!”dengan nada datar aku berkata “Benar!Saat aku menikah juga tidak ada apa-apa, kami membeli sedikit demi sedikit,dan sudah hampir lengkap seperti yang dimiliki abang. “Ayah tahu ada makna lain dalam ucapanku, setelah itu tidak bicara lagi, dan sepanjang hari tidak terdengar lagi nyanyian falls-nya itu.

Malamnya, aku tidur bersama ibu. Pada malam itu ibu mengatakan “Dara manis, lain kali tidak boleh berkata begitu sama ayah,karena marah ayahmu hari ini menyeka air matanya!”aku berbisik pelan “Siapa suruh dia pilih kasih!”
ibu menarik napas panjang lalu berkata “Sayang, tahukah kau kenapa kaki abangmu cacat ?”aku menggelengkan kepala.
“Saat kau masih anak-anak, suatu ketika ayah membawamu dan abang menumpangi traktor pergi ke pekan raya, tapi traktor itu terbalik di tengah jalan, dengan instingnya ayah memelukmu dan meloncat keluar.
Namun, ketika ayah kembali lagi mencari abangmu, kaki abangmu telah tertindih di bawah roda.
Abangmu kemudian di bawah ke rumah sakit, dan meski nyawanya selamat, tapi meninggalkan cacat seumur hidup.
Dan sampai sekarang Ayahmu masih merasa sangat bersalah, Ia tidak melindungi kalian dengan baik sekaligus.
Tapi Ayah juga tidak mau aku menceritakan hal yang sebenarnya padamu, ayah takut kau akan memikul beban jiwa yang berat……”
Aku termangu, dan air mata berlinang membasahi wajahku.

Nikah emas

Di sebuah perjamuan makan malam, tamu undangan mengucapkan selamat kepada sepasang kakek dan nenek yg pada hari itu merayakan Ulang Tahun Perkawinan ke-50 tahun. Tamu yg hadir ikut dalam suasana bahagia, menyaksikan betapa kakek dan nenek tsb msh saling mencintai meskipun keduanya sudah tidak muda lagi. Bnyk pasangan tamu yg berharap kelak akan mengalami hal yang sama. Pd saat jamuan makan mulai spt biasa tamu2
duduk di meja bundar untuk menikmati makanan yg disediakan.
Pada meja kakek dan nenek tsb telah terhidang masakan ikan
kesukaan mrk berdua. Dgn penuh kasih sayang, seperti kebiasaanya
sang kakek mengambil bagian kepala ikan tersebut dan meletakkan ke
piring istrinya.
Sang istri terdiam…. Mata nenek tua tersebut mulai berkaca-kaca,
dgn terbata-bata berucap : " 50 th lamanya aku menjadi
istrimu, selama itu aku selalu mengabdikan seluruh hidupku untukmu,
Betapa lama kalau kita menghitung hari demi hari yg kita
lalui. Betapa panjang perjalanan hidup yg kita jalani bersama.
Selama 50 th kau selalu memberikan kasih sayang dan semua
yang kau miliki. Selama itu pula kau selalu memberikan bagian kepala
apabila kita menyantap menu ikan, sungguh hal itu yg paling tidak
aku sukai, tetapi aku memakannya karena aku menghormatimu dan tidak
ingin membuatmu kecewa"
Sang kakek terpana….. . Dgn suara parau dan mata berkaca kakek
tsb berkt : "50 th aku lalui segala rintangan & kebahagian bersamamu, istriku . Dulu aku adalah seorang pemuda miskin yg tak berharta, tetapi engkau bersedia menikah dngku. Sejak saat itu aku telah bersumpah akan selalu membahagiakan engkau, aku akan selalu memberikan yg terbaik yg aku mampu sbg tanda betapa aku sangat mengasihimu dgn segenap hati. Bagian yg paling aku suka dr masakan ikan adalah bagian kepala, oleh krn itu selalu
kuberikan kepadamu krn aku selalu ingin memberikan yg terbaik
hanya untukmu. Selama bertahun2 kita menikah, selama ini kita
hidup bahagia meskipun pd awal pernikahan kita hidup sederhana
tetapi kau tak mengeluh. Aku selalu bekerja keras hanya utk
membahagiakan dan memberikan yg terbaik bagimu & anak2 kita.
Istriku, selama ini kita saling mengasihi, mencintai tanpa henti,
tapi ternyata kita tidak saling memahami ". Betapa sang nenek hrs
menelan kekecewaan setiap mendapat kepala ikan hanya utk
membahagiakan sang suami. Betapa kakek harus merelakan bagian kepala
ikan yg sangat disukai hanya untuk membahagiakan sang istri.

Si nenek selama 50 th sdh melakukan penundukan diri begitu juga si
kakek dia sdh mengasihi si nenek, tp ternyata ada kekecewaan
disana.

Minggu, 13 Juni 2010

Jokes Guru dikerjain muridnya

Seorang Guru SD kelas 2 sedang menerangkan soal Matematika, kemudian guru itu menunjuk salah satu muridnya untuk menjawab pertanyaan.

"Amin... coba jawab pertanyaan ibu, kalo ada 5 ekor burung di pagar kemudian seorang pemburu menembak mati salah satu dari burung tersebut, sekarang berapa sisa burung yang ada di pagar?", tanya Bu Guru.

"Abis dong bu...", jawab Amin dengan yakin.
"Salah Min.. coba kamu pikir lagi jawabannya", bantah Bu Guru.
"Iya bu.. jawabannya abis..!", Amin mencoba mempertahankan pendapatnya.
"Ya sudah, tolong kamu jelasin kenapa jawaban kamu begitu..!"
"Begini bu.. khan ada 5 ekor burung.. di tembak satu.. terus darahnya kemana-mana khan bu.. trus temen-temennya jadi panik dan pada ngabur.. jadi burung yang tinggal di pagar itu nggak ada lagi.", jawab Amin.

"Sebenarnya jawaban itu bukan yang ibu minta, jawaban yang benar adalah 4, tapi Ibu suka cara kamu berpikir..", kata Bu Guru.

"Bu guru boleh tanya ga?", teriak Amin.
"Silahkan Amin.. mau tanya apa?", jawab Bu Guru.

"Ada 3 Cewek lagi makan ice cream. Cewek Pertama makan dengan cara jilatin ice creamnya, Cewek Kedua makan dengan cara menggigit ice creamnya, trus Cewek Ketiga makan dengan cara ngemutin tuh ice cream. Pertanyaannya, yang mana diantara 3 Cewek tersebut yang sudah menikah?", tanya Amin.
Ibu guru kaget sejenak tetapi karena tidak mau mengecewakan muridnya, ibu guru menjawab, "Yang sudah menikah adalah Cewek yang ngemut ice creamnya..".

"Salah bu.. yang sudah menikah adalah cewek yang pakai cincin kimpoi. Tapi tidak apa-apa.. saya suka cara ibu berpikir.."

kisah Jam Dan Pembuat Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam,
apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?" "Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping- ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan. "Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? "Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh
luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu
berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.



Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.