Bang Jali, sudah menekuni profesi sebagai sopir taxi selama puluhantahun. Karirnya dimulai sejak zaman perusahaan taxi di DKI masih bisadihitung dengan jari. Jumlah armadanya juga masih sangat terbatas.
Betawi asli kelahiran Kuningan (Setiabudi) ini sepertinya sudah betahdengan profesinya. Buktinya, tidak ada niat untuk alih profesi. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai pemerah susu di tahun tujuhpuluhan. Saat itu, Kuningan sedang ngetop-ngetopnya sebagai sentrasapi perah. Sampai angin modernisasi berhembus dan memindahkan lokasipeternakan sapi perah ke daerah Pondok Rangon.
Terpikir olehnya untuk beralih profesi, karena ia tidak ingin hidupjauh dari keluarga besarnya, yang masih betah tinggal di Setiabudi. Cuma, tidak terpikir olehnya untuk ganti pekerjaan menjadi anggota DPRatau anggota kabinet, yang sekarang makin ganas memeras duit rakyat. Padahal kalau itu terbersit dalam pikirannya dahulu, pastilah ia sekarang menjadi pejabat yang sukses.
Dengan uang yang dimilikinya, ia bikin SIM, dan mulailah ia nariktaksi. Sambil sesekali jadi calo tanah atawa rumah kontrakan. Sampaikini. Dari masih bujangan sampai hampir punya cucu. Nyak Babenya satu persatu meninggalkan dunia fana. Cuma ninggalin sepetak tanah yang sudah habis dibagi empat belas bersaudara. Sebagian tanah bagiannya sudah dijual buat pergi haji bareng istrinya serta buat biaya sekolah empat orang anaknya. Nggak perlu tinggi-tinggi. Cukupsampai SMA. Yang perempuan nunggu jodoh datang. Yang laki-laki mulaicoba-coba cari duit sendiri. Ngojek atau jadi pak ogah di persimpanganatau di putaran jalan.
Di atas sebagian sisa tanah yang masih dimilikinya, berdiri rumah sederhana yang cukup untuk bang Jali, istridan 5 orang anaknya. Itu pun sudah tidak utuh miliknya, karena hampirseparuhnya sudah jadi milik orang lain. Tanah itu dijual semeter demisemeter untuk memenuhi kebutuhan bang Jali yang mendadak. Tidak perluakte Notaris. Cukup selembar kuitansi dan tanda tangan bang Jali danseorang saksi, yang biasanya merangkap calo, maka hak atas tanah itupun berpindah. Bang Jali tidak tahu pasti, kapan sisa tanah miliknya bakal dibelideveloper. Yang pasti, beberapa saudaranya sudah menjual tanahbagiannya dan kemudian pindah ke pinggir kota seperti Lenteng Agung, Citayam atau bahkan lebih jauh lagi. Kemajuan zaman sudah sulitdibendung lagi. Cepat atau lambat, Bang Jali beserta istri dan jugaanak-anaknya, terpaksa menyingkir dari Setiabudi. Satu hal yang terus dihindarinya sejak dulu. Entah sampai kapan.* * * * *
Suatu saat, ketika mangkal di Gambir, ia dapat penumpang yang mintadiantar ke Kebayoran Baru. Salah satu daerah elit di Jakarta. Kebetulan sang pendatang, masih muda belia, baru sekali datang ke Jakarta, dengan tujuan mencari pekerjaan, dan sementara ia tinggal di rumah familinyayang sudah hidup mapan. Katanya, saudaranya akan membantunya mencaripekerjaan. Kalau di kampung, katanya cari pekerjaan susah. Paling-paling jadi petani. Kalau di Jakarta, masih ada harapan dapatpekerjaan layak. Sukur-sukur bisa kerja di bank atau perusahaan asing. Atau jadi pegawai negeri.
Tidak diketahui asal muasalnya, pembicaraan mereka sampai ke masalah banjir besar di Jakarta tahun 2002 lalu. Seperti bensin disambar api,kontan bang Jali semangat bercerita. Ketika itu, taksi sedang melintasdi wilayah Senayan. Bang Jali langsung ngecap. Setidaknya, dia inginjadi tuan rumah yang baik bagi para pendatang. Dia mencoba jadi pemandu. "Di sini adalah lokasi paling tinggi di Jakarta." "Maksud abang ?" tanya sang penumpang rada penasaran. "Ya paling tinggi, diukur dari permukaan laut. Tempat ini sekarang dijadiin indikator banjir di Ibu kote ini." Kata bang Jali.
Suasanahening sejenak. Bang Jali melanjutkan ceritanya. "Artinye, kalo di sini ketinggian air sudah semate kaki, kote Jakarte ini sudah kagak kelihatan lagi di Peta. Ude jadi bagian dari Samudera Indonesia. Paling cuma emas Monas aje nyang kelihatan. Itu juge kalo ade nyangj again tiap hari. Tapi ane sih kagak yakin. Sandal jepit rade klimisaje ilang kalo nggak dijagain sendiri! Kan ente tahu sendiri, di negeriini, makin banyak penjaganye, makin gede angke resiko kehilangannye! "
Lampu lalu lintas menyala merah. Taksi berhenti di bunderan PatungPemuda Membangun. Para pendatang lebih suka menyebutnya Patung Obor. Kalangan anak muda menamainya patung Pizza Man, karena mirip-miriporang bawa baki berisi pizza.
"Abang serius?" tanya sang penumpang, semakin penasaran.
"Ente nggak percaye? Coba bayangin kalo ketinggian air di daerah sini udah setinggi mate kaki patung itu. Ape nggak kerendem semuewilayah di Jakarte ini?". Kata bang Jali dengan nada tinggi.
Lampu lalulintas menyala hijau. Bang Jali kembali tancap gas. Sang penumpang cumabisa melongo. Sialan. Untung cuma ketipu omongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar