Kamis, 30 Juli 2009

Matius 19:6

Seorang guru Sekolah Minggu bertanya kepada murid-muridnya, "Apakah firman
Tuhan yang saya ajarkan selama ini sudah dimengerti semua?"
Murid-murid menjawab, "Sudah, Bu guru!"
Lalu Ibu Guru melanjutkan, "Kalau begitu, minggu depan kalian akan dites
oleh Kepala Pendeta. Apakah sudah siaaaap?"
Murid-murid menjawab, "Siaaap Bu Guru!"

Maka minggu berikutnya Kepala Pendeta datang ke kelas dan berkata kepada si
Ibu Guru, "Bu, hari ini merupakan evaluasi pelajaran firman Tuhan yang
selama ini Ibu ajarkan. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada
murid-murid".

Si Ibu Guru menjawab (dengan berharap si Kepala Pendeta memujinya), "Bapak
bisa lihat sendiri kalau murid-murid saya pandai-pandai semuanya".
Kemudian Kepala Pendeta bertanya kepada murid-murid, "Apakah kita boleh
mencuri?"
Murid-murid menjawab, "Tidak boleh, Pak, sebab dilarang di dalam Hukum
Taurat!"
Si Ibu Guru senyum-senyum senang.

Lalu si Kepala Pendeta melanjutkan, "Apakah kita boleh membunuh?"
Murid-murid menjawab, "Tidak boleh Pak, sebab itu juga dilarang di dalam
Hukum Taurat!"
Si Ibu Guru semakin bersemangat tersenyum.

Kepala Pendeta semakin penasaran dan bertanya lagi, "Nah, sekarang kalau
kalian punya kucing di rumah lalu buntutnya kalian potong, berdosa nggak
kalian?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, murid-muridnya berpikir keras karena
buntut kucing yang dipotong bukan berarti mencuri dan kucingnya tidak mati
berarti tidak membunuh. Kelas menjadi hening ...
Tiba-tiba salah satu murid berdiri dan menjawab dengan suara nyaring,
"Berdosa, Pak!"
Si Kepala Pendeta bertanya, "Kenapa menurut kamu berdosa?"
Si murid menjawab, "Sebab di dalam Matius 19:6 tertulis, 'Demikianlah
mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sebab apa yang telah dipersatukan
Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia'!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar